author_firstnameSUPRIYONO
author_lastnameNONE
titlePEMBERDAYAAN WARGA BELAJAR PADA KELOMPOK BELAJAR : Studi Pengembangan Model Pengelolaan Program Pembelajaran Paket B Kesetaraan melalui Kelompok Belajar
publisherPPS UPI
subjectKELOMPOK BELAJAR
contributorSutaryat Trisnamansyah, Sudardja Adiwikarta, Endang Sumantri
dt_create2002/08/01
dt_publish2013/01/10
collection_typeDisertasi
departementPendidikan Luar Sekolah
identifierhttp://digilib.upi.edu/digitalview.php?digital_id=1491
sourcedigilib.upi.edu
author_emailperpustakan@upi.edu
abstract

Ada beberapa kekeliruan/kesesalan pada pengelolaan program pembelajaran Kejar Paket B. Pertama, program Kejar Paket B sering diperlakukan sebagai target program yang keberhasil-annya diukur dari jumlah warga belajar yang direkrut dan/atau diluluskan secara kuantitatif. Kedua, proses pembelajaran dan pengelolaan program pembelajaran yang diterapkan seperti yang biasa diterapkan pada sekolah atau kursus, dengan meninggalkan prinsip-prinsip dan karakteristik sistem pendidikan luar sekolah. Ketiga, penerapan sistem peluncuran satuan kelompok belajar pada program kejar Paket B lebih bersifat sebagai sekolah atau kursus dari pada kelompok belajar itu sendiri. Berdasarkan alasan-alasan itu, dipandang perlu adanya revisi atau rekonstruksi kelompok belajar kepada konsep dasarnya, yakni sebagai sistem pembelajaran yang spesifik dan mandiri (outonomous leaming deUvery system) sesuai dengan karakteristik warga belajarnya.Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menemukan model pengelolaan program pembelajaran Kejar Paket B yang ditujukan membangun kepribadian warga belajar. Tujuan khusus penelitian difokuskan pada pengembangan rasa berdaya diri, rasa percaya diri, motivasi belajar, dan prestasi belajar; yang pada gilirannya warga belajar akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berkepribadian mantap.Penelitian mengambil sampel di wilayah Kota dan Kabupaten Bandung, dilakukan selama delapan bulan, dari Juni 1999 sampai Maret 2000. Penelitian dilakukan dengan pendekatan penelitian dan pengembangan (Borg dan Gali, 1979), dalam lima tahapan pokok: studi pendahuluan, korelasional, pilot studi, validasi eksperimental, dan penghalusan model temuan. Penelitian pendahuluan dan korelasional ditujukan untuk menemukan model hubungan sebab-akibat antara variabel terikat dan beberapa variabel bebas, khususnya variabel bebas yang akan dimanipulasi dalam pengembangan model. Penelitian korelasional ini melibatkan 16 satuan Kejar Paket B dengan 473 warga belajar sampel yang ditarik secara rambang berstrata. Meneliti 21 variabel, terdiri atas empat variabel terikat dan tujuh belas variabel bebas, termasuk di dalamnya tiga variabel pemberdayaan. Temuan penelitian korelasional digunakan sebagai landasan, pertimbangan, dan konsideran dalam mengembangkan kerangka konseptual model awal pengelolaan program pembelajaran yang diinginkan. Penelitian pilot studi ditujukan untuk mengembangkan model operasional Pengelolaan Program Pembelajaran Kejar Paket B yang menerapkan pendekatan pemberdayaan menuju peningkatan rasa berdaya diri, rasa percaya diri, motivasi belajar, dan prestasi belajar. Prosedur pilot studi melalui siklus: pemodelan, uji lapangan, evaluasi, dan revisi. Selama pilot studi, evaluasi dilakukan melalui refleksi dan diskusi-diskusi yang melibatkan tutor, penilik Dikmas, penyelenggara, dan sebagian warga belajar. Validasi teoritik terhadap model operasional yang dihasilkan pilot studi dilakukan melalui seminar, lokakarya, penilaian ahli, dan ujicoba terbatas. Penelitian eksperimental dilakukan untuk memvalidasi model operasional secara empirik. Penelitian eksperimental itu menggunakan disain non-equivalent control group (Borg dan Gali, 1979:559), melibatkan dua satuan Kejar Paket B sebagai sampel penelitian yang diambil secara puiposif. Temuan-temuan dari penelitian eksperimental itu, baik kuantitatif maupun kualitatif, digunakan untuk menghaluskan model operasional melalui forum seminar dalam skala lebih luas.Uji statistik yang digunakan meliputi regresi ganda, uji t, dan analisis kovarian. Melalui regresi ganda didapatkan gambaran pengaruh serempak yang signifikan dari beberapa variabel pemberdayaan (pelibatan warga belajar dalam pengelolaan kelompok belajar, pelibatan warga belajar dalam proses pembelajaran, dan variasi unsur-unsur dinamika kelompok) terhadap variabel-variabel rasa berdaya diri, rasa percaya diri, dan motivasi belajar (dengan diter-minasi masing-masing 32,42%, 17,21%, dan 6,64%), sedangkan terhadap variabel terikat prestasi belajar diterminasinya hanya 1,75%. Sedangkan 14 variabel bebas lainnya mengatri-busi sebesar 37,31% (terhadap rasa berdaya diri), 20,54% (terhadap rasa percaya diri), 9,87% (terhadap motivasi belajar), dan 12,42% (terhadap prestasi belajar).Uji t dan analisis kovarian terhadap data penelitian eksperimental memberikan bukti Pengelolaan Program Pembelajaran Kejar Paket B Berbasis Pemberdayaan efektif dalam meningkatkan rasa berdaya diri, rasa percaya diri, motivasi belajar, dan prestasi belajar, meskipun pada variabel motivasi belajar peningkatan sekor itu baru nampak bila sekor tes awal dieliminir sebagai kovariat. Temuan ini berarti bahwa pengelolaan program pembelajaran berbasis pemberdayaan memiliki pengaruh yang rendah saja terhadap variabel kriterium/terikat, khususnya pada motivasi belajar.Penghalusan dan validasi ulang terhadap model operasional (penelitian tahap ke lima) juga dilakukan melalui seminar dalam skala yang lebih luas bersama praktisi pengembang program pembelajaran PLS dari Balai Pengembangan Kegiatan Belajar/BPKB Jayagiri Lembang Bandung. Model operasional yang telah dihaluskan itu adalah model final dan produk akhir dari studi ini.Akhirnya, studi menyimpulkan bahwa aktivitas penelitian dan pengembangan yang dilakukan telah menghasilkan model final yang diberi nama "Model Pengelolaan Program Pembelajaran Kejar Paket B Berbasis Pemberdayaan". Model ini terdiri dari landasan filosofis, asumsi-asumsi, prinsip-prinsip, maksud dan tujuan, serta prosedur pengelolaan pembelajaran. Diskripsi model lebih diorientasi pada visi dan misi pembelajaran yang diuraikan secara garis-garis besarnya saja. Dalam masalah ini perancang dan praktisi pembelajaran Kejar Paket B bebas memperkayanya dalam praktek sehari-hari sepanjang tidak bertentangan atau mengurangi landasan, asumsi, dan prinsip yang digariskan. Sebagai acuan praktis, produk pengembangan berupa contoh-contoh pedoman: rekruting warga belajar, pelatihan tutor, pembentukan kelompok belajar, lokakarya kelompok belajar, mobilisasi partisipasi sumber daya orang tua dan masyarakat, serta beberapa contoh skenario metode pembelajaran.Ciri-ciri umum model yang dikembangkan studi isi relevan dengan kebutuhan komunitas PLS khususnya dan pembangunan pada umumnya. Pendekatan pemberdayaan, menghendaki adanya kesejahteraan dan tata kehidupan yang lebih baik. Dengan kata lain pemberdayaan menghendaki kesejahteraan yang rasional dan tata pemerintahan yang sesuai dengan hukum dan perundang-undangan. Proses pemberdayaan yang dikembangkan studi ini bisa menjadi salah satu model penguatan kelembagaan lokal (kelompok belajar) untuk meningkatkan daya tawar personal maupun kolektif di tengah masyarakat sebagai sahih satu ciri pemberdayaan.Berdasarkan proses dan temuan penelitian ini disarankan dan direkomendasikan hal-hal sebagai berikut: (1) warga belajar Kejar Paket B perlu dilibatkan secara optimal dalam pengelolaan kelompok, proses pembelajaran, dan rekayasa dinamika kelompok; (2) perlu peningkatan pemberdayaan warga belajar; (3) para pengambil kebijakan, perancang, dan praktisi program Paket B harus menyadari dan mengerti bahwa kelompok belajar adalah bentuk khusus model peluncuran pembelajaran yang berbeda dengan sekolah atau kursus; (4) para awak sistem Kejar Paket B (tutor dan fasilitator) perlu memahami dan menerapkan pendekatan pemberdayaan khususnya dalam pelaksanaan pengelolaan pembelajaran; (5) para tutor memahami dan mengaplikasikan pendekatan akar rumput yang relevan dengan pendekatan pemberdayaan serta model belajar swaarah dan belajar partisipatif yang berpusat pada warga belajar; (6) kelompok belajar harus dikembangkan dan dikelola secara benar sehingga tumbuh secara mandiri dan berfungsi memberdayakan demokratisasi, kebebasan, partisipasi, kolaborasi, dan kesederajadan; (7) beberapa kelemahan dan keterbatasan studi ini perlu dipertimbangkan lebih dahulu dalam menerapkan model temuan studi dan menindak lanjuti penelitian. Beberapa tema penelitian lanjutan yang bisa dikembangkan misalnya eksperimentasi sejenis dengan desain yang lebih ketat, penelitian kelompok belajar pada Universitas Terbuka atau pada masyarakat pengguna internet/jaringan belajar global, tema efektivitas dan produktivitas kelompok belajar dengan desain longitudinal.

fulltext1d_pls_979819_supriyono_table_of_content.pdf
fulltext2d_pls_979819_supriyono_chapter1.pdf
fulltext3d_pls_979819_supriyono_chapter2a.pdf
fulltext4d_pls_979819_supriyono_chapter3.pdf
fulltext5d_pls_979819_supriyono_chapter4a.pdf
fulltext6d_pls_979819_supriyono_chapter5.pdf
fulltext7d_pls_979819_supriyono_bibliography.pdf
fulltext8d_pls_979819_supriyono_appendix.pdf